WRITE READ SHARE FUN AND FRIENDLY

NimbuzzKancut_Black  NimbuzzBocari  NimbuzzBlackgun.Frendly  NimbuzzRancid_radio  NimbuzzSangkuriang  NimbuzzV_yant  NimbuzzBlack_Kawer  NimbuzzThe$Grim

WELCOME IN WORD FORUM THE BEST FRIENDLY

    Persija, Tionghoa, dan PialaDunia

    Share

    fajar_vikerz
    MODERATOR
    MODERATOR

    Jumlah posting : 108
    Join date : 2010-08-25
    Age : 26
    Lokasi : pandeglang

    Persija, Tionghoa, dan PialaDunia

    Post by fajar_vikerz on Thu 10 Mar 2011 - 17:08

    INILAH.COM, Jakarta - Sebagai Daerah
    Khusus Ibu Kota, wajar jika Jakarta menjadi
    salah satu titik konsentrasi pencarian dan
    pengembangan pemain muda berbakat
    PSSI.
    Jakarta menjadi satu dari 14 kota dan 12 provinsi
    yang menjadi pusat pencarian bakat-bakat muda
    pemain sepakbola yang dibidik PSSI.
    Hampir di setiap generasi, DKI Jakarta melahirkan
    pemain-pemain berkualitas yang menjadi tulang
    punggung Tim Nasional Indonesia, bahkan di era
    sebelum kemerdekaan, yang saat itu masih
    bernama Dutch East Indies alias Hindia Belanda.
    Kala itu, Hindia Belanda menjadi wilayah di Asia
    pertama yang menembus Piala Dunia, yakni pada
    1938.
    Yang menarik, sepak bola di Jakarta berkembang
    berkat komunitas etnis Tionghoa yang
    mendirikan Lapangan Petak Sinkian pada 1905.
    Petak Sinkian belakangan dikenal sebagai lapangan
    Union Makes Strength (UMS), nama tim bentukan
    komunitas tersebut, yang berkali-kali menjurai
    Voetbal Bond Batavia Omstreken (VBO) era 1930-
    an dan 1949. Pada 1950, VBO berubah menjadi
    Persatuan Sepak Bola Jakarta (Persija) dan UMS
    pun membuka pintu kepada warga pribumi.
    Di kemudian hari, UMS dan Chung Hwa, menjadi
    pemasok pemain bagi Persija dan Timnas
    Indonesia. Sebut saja Kwee Hong Sing, kakek dari
    pemain Indonesia berdarah Belanda Kim Jeffrey
    Kurniawan. Belum lagi Iat Sek, Chris Ong, Him
    Tjiang, Tek Eng, Tan Liong Houw, dan Wim Pie.
    Setelah UMS membuka pintu bagi warga pribumi,
    bintang-bintang kembali dilahirkan klub legendaris
    tersebut. Muncul nama Mohammad Djamiat
    Dalhar. Pemain kelahiran Yogyakarta itu
    membentuk duet tangguh di lini depan Timnas
    bersama sang legenda, Ramang, di era 1950an.
    Berikutnya Oyong Liza, Rony Paslah, Isman
    Jasulmei, Ruli Nere, Ely Idris, Ricky Yacobi, Hadi
    Mulyadi, Surya Lesmana, dan banyak lagi.
    Sebagai Ibu Kota, yang didiami penduduk dari
    beragam etnis, wajar bila beragam pula etnis
    yang mengikuti pembinaan sepak bola di kota
    yang pada Belanda dinamai Batavia itu.
    Generasi selanjutnya, UMS berhasil melahirkan
    mantan penyerang Timnas Indonesia, Widodo
    Cahyono Putro. Penyerang yang mencetak gol
    terbaik di Piala Asia 1996 dengan gaya salto itu
    kini menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia.
    Namun kini situasinya sudah berbeda. Sedikit
    sekali pemain-pemain binaan kota Jakarta yang
    bisa menembus Timnas. Jangankan menembus
    Timnas, hanya untuk masuk ke tim utama Persija
    Jakarta, yang notabene menaungi klub-klub
    amatir di daerah Jakarta dan sekitarnya, mereka
    kesulitan.
    Dua ikon Macan Kemayoran, Bambang
    Pamungkas dan Ismed Sofyan, bukanlah pemain
    asli binaan DKI Jakarta. Hanya Hasim Kipauw dan
    Ramdani Lestaluhu yang sukses menembus tim
    utama Persija. Nama terakhir sempat bergabung
    dalam pemusatan latihan Timnas Pra-Olimpiade.
    Minimnya sarana dan prasarana di Ibu Kota, yang
    pada akhirnya membatasi kegiatan kompetisi usia
    muda, ditengarai menjadi salah satu penyebab
    utamanya. Lapangan Menteng sudah digusur dan
    dijadikan taman. Lalu, Lapangan UMS yang
    legendaris sudah bukan menjadi hak milik
    pengurus UMS lagi setelah terjadi sengketa
    kepemilikan. Alih fungsi bisa terjadi sewaktu-
    waktu jika pemiliknya menginginkan demikian.
    Terakhir, stadion Lebak Bulus dipastikan digusur
    akhir tahun ini untuk dijadikan terminal sistem
    transportasi cepat masal (MRT).
    Pelatih Persija Rahmad Darmawan sepakat
    dengan hal ini. "Tempat seperti Lapangan
    Menteng adalah sarana yang baik untuk
    berkompetisi. Banyak pemain yang dihasilkan,
    bahkan saya pun masuk Timnas Indonesia. Tapi
    sekarang tahu sendiri, lapangan di Jakarta sangat
    sulit," jelas mantan pelatih Sriwijaya FC, seperti
    dikutip dari Bataviese.
    "Jika ada sarana pendukung dan memiliki
    kompetisi yang sehat, saya yakin akan ada
    pemain asli binaan Jakarta yang muncul ke
    permukaan," tegasnya.
    Terbatasnya sarana dan prasarana serta
    mahalnya lahan di Jakarta membuat PSSI Jakarta
    lebih banyak bergantung pada swasta. Sekolah
    Sepak Bola Villa 2000 adalah salah satu SSB
    berprestasi, yang dua kali mewakili Indonesia di
    ajang internasional Manchester United Premier
    Cup. Pencapaian terbaik mereka adalah mewakili
    Asia untuk tampil di Inggris.
    Selain itu, ada SSB elit Arsenal Indonesia. SSB
    yang berafiliasi langsung dengan klub elit Liga
    Primer Inggris Arsenal itu bahkan memiliki
    lapangan sendiri.
    Infrastruktur menjadi kunci pembinaan olahraga,
    termasuk sepakbola, dan untuk yang satu ini,
    adalah tugas pemerintah untuk menyediakannya.
    Itu jika kita masih ingin menciptakan kembali
    generasi emas sepakbola nasional. [nic]

      Current date/time is Sun 4 Dec 2016 - 19:13