WRITE READ SHARE FUN AND FRIENDLY

NimbuzzKancut_Black  NimbuzzBocari  NimbuzzBlackgun.Frendly  NimbuzzRancid_radio  NimbuzzSangkuriang  NimbuzzV_yant  NimbuzzBlack_Kawer  NimbuzzThe$Grim

WELCOME IN WORD FORUM THE BEST FRIENDLY

    Asal Mula Perseteruan Arema vs Bonek

    Share

    fajar_vikerz
    MODERATOR
    MODERATOR

    Jumlah posting: 108
    Join date: 2010-08-25
    Age: 24
    Lokasi: pandeglang

    Asal Mula Perseteruan Arema vs Bonek

    Post by fajar_vikerz on Thu 16 Feb 2012 - 21:51

    Berdirinya Armada 86 hingga berevolusi
    menjadi PS Arema pada tahun 1987
    membuat konflik semakin memanas. Dalam
    kompetisi Perserikatan, Persema dan
    Persebaya sudah memanaskan suhu
    konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti
    kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas
    dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra
    Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992
    yang mempertandingkan PS Arema
    Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya
    menghadirkan awalan baru sejarah konflik
    Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu
    belum bernama Aremania) membuat ulah
    di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema
    Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka
    dalam 6 gerbong kereta api untuk
    menghindari kerusuhan dengan Bonek.
    Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat
    panas Bonek yang ada di Surabaya.
    Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan
    Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan
    melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh
    Aremania pada tahun 1996 dengan
    melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari
    dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di
    Stadion Tambaksari kala pertandingan
    Persebaya melawan Arema saat itu telah
    membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-
    apa dan harus menahan amarah mereka
    dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan
    tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI
    dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta
    pengawalan ketat DANDIM kota Malang
    terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini
    sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung
    pertahanan lawan sembari menunjukkan
    kesantunan Aremania dalam mendukung
    tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada
    kata damai dari Bonek kepada Aremania,
    dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan
    sekalipun. Kejadian ini dibalas oleh Bonek di
    Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei
    1998 dimana Aremania akan hadir dalam
    pertandingan Persikab Bandung vs Arema
    Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen
    diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu
    rombongan Aremania yang berjumlah
    puluhan orang menaiki bus AC yang sudah
    disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di
    tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasar Senen tiba-tiba bus yang ditumpangi
    Aremania dihujani batuan oleh Bonek.
    Untuk menghindari jatuhnya korban,
    rombongan Aremania langsung turun dari
    bus untuk melawan Bonek yang
    menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di
    Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini
    mendapat applaus dari warga setempat,
    sehingga Bonek harus mundur
    meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.
    Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya
    menandatangi nota kesepakatan bahwa
    masing-masing kelompok suporter tidak
    akan hadir ke kandang lawan dalam laga
    yang mempertemukan Arema dan
    Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim
    bersama kedua pemimpin kelompok
    suporter tersebut ditandatangani di Kantor
    Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun
    1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua
    elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang
    mempertemukan kedua klub kesayangan
    masing-masing. Tetapi nota kesepakatan itu
    tidak mampu meredam konflik keduanya.
    Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan
    Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu
    pertandingan antara tuan rumah Gelora
    Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan
    Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo
    dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena
    dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam
    pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu
    berterbangan dari luar stadion menyerang
    tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi
    ini membuat Arema meminta kepada
    panpel untuk mengamankan wilayah luar
    stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke
    lapangan, sementara di luar stadion justru
    terjadi gesekan antara Bonek dengan
    aparat. Turunnya Aremania ke lapangan
    pertandingan membuat pertandingan
    dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek
    membuat Aremania membantu aparat
    dengan memberikan lemparan balasan ke
    arah Bonek. Aremania pun harus
    dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk
    dari kepolisian. Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek
    masih berlanjut pada tahun 2006.
    Kekalahan Persebaya Surabaya atas
    Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam
    laga first leg Copa Indonesia membuat
    kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya
    mengalahkan Arema Malang di stadion
    Gelora 10 November Tambaksari Surabaya
    membuat Bonek mengamuk. Laga yang
    berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan
    pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema
    Malang. Kekecewaan ini mereka
    lampiaskan dengan merusak infrastruktur
    stadion, memecahi kaca stadion, dan
    merusak beberapa mobil dan kendaraan
    bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan
    tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan
    berkali-kali menunjukkan gambar rekaman
    mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh
    Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan
    menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI. Rivalitas
    keduanya tidak hanya hadir lewat
    kerusuhan dan peperangan, tetapi juga
    dengan nyanyian-nyanyian saat
    mendukung tim kesayangannya.
    Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti
    akan menyanyikan lagu-lagu yang
    menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu
    yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci,
    Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu
    lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari
    Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan
    oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-
    Bonek juga mereka kumandangkan kala
    Arema menghadapi tim lain di Stadion
    Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai
    dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam
    tahun baru di Surabaya oleh pemuda
    berkaos hijau (oknum Bonek?) Atmosfir Malang – Surabaya Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn
    dalam View from The Periphery: Football in
    Indonesia, dimana ia menyebut bahwa
    dinamika suporter di Indonesia sangat
    dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur
    Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang
    amat sangat terhadap hal yang bisa
    mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor
    utama konflik antar suporter di Indonesia.
    Kultur Jawa yang menghindar dari konflik
    dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari sepakbola
    yang harus siap sedia untuk dipermalukan.
    Tetapi kultur Jawa pula yang memicu reaksi
    apabila penghinaan itu terjadi di depan
    umum dan sangat memalukan, maka
    ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul untuk menjaga wibawa dan harga
    diri. Kondisi ini yang memicu atmosfir panas
    Malang–Surabaya. Geng pemuda asal
    Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun
    1967 memicu perasaan dendam dari Arek
    Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi
    posisi Malang masih dibawah Surabaya.
    Sifat tidak terima Arek Malang menjadi
    nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini
    membuat keduanya susah berjabat tangan.
    Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema
    Malang, dimana Arema mengambil alih
    posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.
    Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika
    Aji Santoso pindah dari Arema ke
    Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat oleh Aremania.
    Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang,
    ia pun harus melalui begitu banyak tim
    sebelum akhirnya mengakhiri karirnya
    bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi
    pun menjadi korban rivalitas Aremania- Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah
    menjadi bintang sepakbola nasional dan
    dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya
    menawarkan Ahmad Junaedi untuk
    kembali ke Arema pun ditolak oleh
    Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan
    Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad
    Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan
    kepada Bonek juga dikumandangkan.
    Dengan pemilihan simbol singa
    menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu,
    diatas Ikan Sura dan Buaya. Arema
    menjadi identitas resistensi daerah terhadap
    pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek
    jawa timur dengan tatanan huruf yang
    dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema
    menjadi identitas kultural masyarakat
    Malang. Selain itu Arema juga merupakan
    pemersatu warga kota Malang yang
    sebelumnya terpecah pada beberapa
    desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan
    arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu
    bondho nekad, maka arek Malang itu
    bondho duwit. Ketika Bonek itu suka
    membuat kerusuhan, maka Aremania ingin
    menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua
    kubu suporter besar Jawa Timur ini.

      Current date/time is Fri 31 Oct 2014 - 0:28